Jumat, 08 Desember 2017

Mendesain Jembatan Merah Plaza Sebagai Icon Wisata Belanja


Bagi warga Surabaya pasti tahu JMP (Jembatan merah plaza), yang lokasinya memang tepat bersebelahan dengan Jembatan Merah Surabaya yang penuh dengan sejarah itu. Atau dari kota lain, semisal Gresik, Lamongan juga Sidoarjo  yang sering berbelanja grosir disitu. Sekalipun sering lewat depan lokasi tapi entah sudah berapa lama tidak mengunjungi JMP. Terakhir berkunjung kesana setelah pembukaan JMP2, mungkin sudah sepuluh tahunan lebih kalau tidak salah ingat.
Siang kemaren memang sengaja ingin mengunjungi JMP untuk melihat pameran furniture yang sebelumnya dapat informasi dari teman, kalau produknya ada yang dipasarkan disana. Akhirnya setelah sekian lama  saya sempatkan berkunjung ke JMP untuk melihat produk furnitur teman saya tersebut.
Saat masuk  kondisi lengang sudah terasa, aku pikir mungkin sebagian saja. Langkah terus saya lanjutkan. Tidak lama baru beberapa toko dari pintu masuk, ada seorang pedagang dengan stand losnya. Disitu saya ditawari seorang ibu untuk melihat dagangannya, saat itu saya cuman senyum, karena memang tidak ada niatan untuk berbelanja. Telusur sambil mencari lokasi pameran, ternyata sepi banget, kalau orang Surabaya bilang “sepi pol”. Soal dulu kalau masuk kesana sudah pasti “senggol-senggolan” dengan para pengunjung lain karena memang kondisinya selalu ramai. Apalagi kalau saat bulan puasa atau menjelang idul fitri, pasti kondisi dalam pertokoan JMP bukan ramai lagi , tapi macet. Mau pilih-pilh barang saja harus rela antri dan berdesak-desakan.
Sekarang dari tiap lantainya selalu ada stand yang tutup, malah dibeberapa lantai ada sisi area yang sudah kosong. Raut muka para pedagang juga sudah beda dengan yang dulu, seperti ada kecemasan, sekalipun sapaan-sapaan penawaran barang dagangan masih tetap ada. Dalam hati kok bisa seperti ini?. Akhirnya langkah saya lanjutkan untuk lebih menyusuri semua lokasi yang dulu menjadi titik-titik keramaian. Apa gerangan? gumam dalam hati, saya yang ketinggalan berita atau saya, juga kita yang sudah mulai “terdegradasi”, dalam arti lebih suka mengunjungi dan berbelanja di mall ataupun plaza yang mewah dan bergeser ketempat yang lebih wah. Belum lagi “gurita” toko Online yang sudah sangat merubah life style model gaya berbelanja kita.
Dalam hati sedih campur aduk melihat kondisi seperti itu. Dalam benak pikir, saya harus berbelanja disini, tapi apa ?. Saat itu juga teringat ibu tadi yang sempat menawari saya di lantai satu dengan stand los nya. Walaupun agak lupa lokasi stand ibu tersebut, namun setelah cari sana sini alhamdulilah akhirnya ketemu juga. Disitu saya dipanggil “mas ganteng”, saya sampai ketawa dan senyum sendiri mendapat sambutan hangat ibu penjual dalam menawarkan barang dagangannya tersebut. Langsung saja tawaran berbagai macam dagangannya ia luncurkan. Sekalipun tidak begitu butuh dengan barang yang ditawarkan tapi saat itu saya berusaha memilih dan membeli apa yang bisa saya beli. Lagi-lagi saya dapat titel lagi, “mas sabar”, katanya saya orangnya sabar banget lho, nglihatnya dari mana coba. Mungkin dari melihat dan mendengarkan saja  apa yang ditawarkan penjual tanpa melakukan penawaran, langsung pilih dan bayar sesuai dengan harga yang ditawarkan.
Disisi itulah saya melihat sepertinya kondisi JMP sudah lama terlihat kurang bergairah, sekalipun sekilas tampak depan jalan terlihat ramai dengan dinamika yang cukup.
Pameran furniture produk teman saya ternyata juga bukan sebuah pameran, melainkan memang salah satu produk yang dijual disalah satu stand toko JMP namun dipajang agak keluar yang sekilas nampak seperti pameran. Itupun kondisinya juga kurang bergairah, tidak kalah mengenaskan dan sepi pengunjung.
Jika menelaah lebih dalam JMP harusnya bisa lebih prospek dan menarik ketimbang mall atau plaza lain yang begedung mewah. Mari kita amati dan telaah satu persatu beberapa spot diseputaran area JMP.
Jika kita berdiri di depan lokasi JMP, disana taman sudah dibangun dengan elok nan cantik. Taman Jayeng Rana yang dulu tandus, sekarang sudah disulap layaknya taman Bungkul di raya Darmo. Nama taman Jayeng Rana tersebut juga sudah berganti menjadi Taman Sejarah, luar biasa, pas banget juga penamaan taman tersebut, sinergi dengan “aura” Jembatan Merah yang memiliki sejarah sangat dalam. Akses free wifi yang cepat dan tanpa putus menjadi nilai tambah, jangan salah karena saya sudah mencobanya dan memungkinkan taman Sejarah dipakai lapak layaknya arisan keluarga dan kumpul bareng komunitas yang bisa menjadi nilai lebih lagi buat JMP.
Taman Sejarah, Jembatan Merah Plaza. (dokpri)

Area bermain, Taman Sejarah. (dokpri)

Salah satu sisi rest area Taman  Sejarah, full wifi hot spot. (dokpri)

Sebelah sisi kiri JMP mengalir sungai Surabaya yang disitu terdapat Jembatan Merah Surabaya. Jembatan Merah yang masyur, sebagai saksi sejarah tanpa batas.  Dimana ceritanya tidak bakalan habis untuk diulas.
Sungai Surabaya dengan Jembatan Merah (dokpri)

Jembatan Merah (dokpri)

Sebelah sisi depan kanan terdapat terminal yang sudah rapi tidak semrawut seperti dulu. Armada becak-becak juga sudah tertata rapi dengan ketersediaan pangkalan tersendiri sejajar dengan lokasi terminal, yang tak kalah elok dengan sisi background bangunan bersejarah pula.
Terminal Jembatan Merah (dokpri)

Area Becak, Terminal Jembatan Merah. (dokpri)

Jika kita menatap kedepan masih berdiri dengan orisinil gedung bank Mandiri yang nilai sejarahnya tidak kalah tinggi. Apa yang kurang coba dari Jembatan Merah Plaza?. Sisi tersebut harusnya bisa menjadi nilai tambah, sebuah nilai lebih yang bisa dijual untuk Jembatan Merah Plaza Surabaya.
Gedung Bank Mandiri, Jembatan Merah (dokpri)

JMP bisa menjadi icon besar dengan menyinergikan empat spot dari titik area tersebut yang kesemuanya memiliki nilai jual tinggi. Dengan begitu JMP tidak sekedar bisa ramai kembali menjadi pusat belanja dan pusat grosir terbesar tetapi memiliki nilai lebih dan lebih menarik dari sekedar tempat pusat perbelanjaan.
Penataan area JMP sudah sungguh begitu bagusnya. JMP bisa dijadikan sebagai wisata sejarah sekaligus wisata belanja. JMP harus memiliki stand atau spot khusus yang didalamnya menjual suvenir atau merchendise yang berbau sejarah yang nantinya bisa lebih-lebih lagi menjual nilai JMP.
Ibu walikota Surabaya tentunya sangat memahami dengan menata area JMP dengan begitu elok nan cantiek, tinggal warga kota Surabaya harus kembali ke jati dirinya. Ikut memberdayakan kembali ekonomi kerakyatan yang peduli nilai-nilai sejarah dan keberdayaan. Mengingat JMP sangat potensial menjadi wisata belanja, sejarah dan cagar budaya sekaligus pusat grosir Indonesia bagian timur seperti eranya dulu.


#JembatanMerahPlaza
#JembatanMerah
#CagarBudaya
#WisataBelanja

Salam
Mata2hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar